free shipping
on orders over $249

Semua Blog

Pashmina Turki

Pashmina Turki

Para Hijaber Indonesia sekarang lagi gandrung dengan produk-produk yang berasal dari Turki, mulai dari busana muslim, kerudung hingga peniti untuk merapikan jilbab. Sekarang ini tak asing lagi bagi mereka dengan yang namanya pashmina Turki, karena selain ragam coraknya yang khas pashmina Turki juga terlihat simple dan elegan untuk dikenakan. Mari kita bicarakan lebih jauh tentang pasmina Turki...Pashmina Turki atau kerudung Turki ini disebut sebagai jilbab turki sebab jilbab pashmina Turki memiliki corak khas yang sering dikenakan oleh para wanita Turki, sebenarnya jilbab pashmina Turki hampir sama dengan jibab pashmina pada umumnya, yang membedakan biasanya hanya dari coraknya, dan biasanya jilbab pashmina Turki maupun jilbab segi empat Turki dipakai hijaber dengan cara yang khas Turki misalnya dengan diberi inner dan dipakai agak membentuk atau menonjolkan bentuk wajah, sama halnya dengan jilbab segi empat Turki yang cara pemakaiannya juga menggunakan inner dan lebih menonjolkan bentuk wajah dari para hijaber.Jilbab pashmina Turki maupun jilbab segi empat turki sesuai dikenakan untuk acara formal dan non formal, karena jilbab Turki memiliki kesan kasual dan anggun, akan tetapi biasanya jilbab pashmina Turki maupun jilbab segi empat Turki lebih sesuai dikenakan untuk wanita yang memiliiki wajah agak tirus, karena jilbab pashmina Turki maupun jilbab segi empat Turki lebih menonjolkan bentuk wajah. Namun jangan salah, bagi kamu yang berpipi chabi juga akan terlihat lebih manis dan cantik dengan jilbab pashmina Turki.Pashmina Turki ukurannya relatif besar yaitu sekitar 80 x 180 cm. Bahannya juga terdiri dari berbagai jenis, seperti polyester katun, katun 100%, sutra, tenunan polyester-viscose, hingga sifon. Walaupun dari bahan sifon, namun sifon Turki lebih berkualitas dan relatif lebih tebal dibandingkan dengan sifon Indonesia.Pemakaian pashmina Turki sangatlah simple dan berbeda dengan kita-kita yang ada di Indonesia yang cenderung memakai jilbab dengan metode yang lebih kompleks :D.Pertama-tama kita pakai dalaman jilbab dahulu dan mengikat rambut kita dengan sedikit diikat ke atas untuk menampilkan kesan bentuk wajah yang lebih lonjong ketika memakai pashmina Turki. Tapi perlu diingat ya.... mengikat rambut Turki itu berbeda dengan yang biasanya kita lakukan. Kita perlu mengikat rambut kita dan menjadikannya terlihat lebih bervolume, tapi jangan terlalu tinggi mengikatnya oke? supaya tidak terlihat seperti "punuk unta". :DSetelah selesai memakai dalaman pashmina dan mengikat rambut, kita lipat 1/4 LEBAR (20 cm dari 80 cm) bagian dari pashmina Turki. Pashmina Turki berukuran lebih besar dari pashmina pada umumnya jadi tak perlu khawatir kekecilan ketika melipatnya. Kemudian klip atau beri peniti bagian dagunya lalu kedua ujung pashmina bisa kamu kreasikan sesuai dengan seleramu.Model belakangDengan model ini, kedua ujung pashmina akan disampirkan dengan menyilang dibagian depan dan berakhir menjuntai di bagian belakang, atau mungkin bisa diikat untuk pashmina Turki dengan bahan dari sifon atau katun. Bagian depan akan terlihat lebih rapi. Supaya terlihat lebih cantik, hijaber bisa menambahkan bros dibagian depannya. Model ini sering dipakai karena lebih simple namun elegan dan hijaber terkesan lebih aktif.Model depan dan belakangModel ini menampilkan ujung-ujung pashmina berada di depan dan belakang. Jika ingin salah satu ujung pashmina ada di depan, maka ketika pakai pashmina salah satu sisi harus lebih panjang. Tips nya yaitu: kalau ingin ujung kanan ada di depan, ketika pakai sisi kanan juga ada di depan. Atau, cukup disampirkan saja. Model ini terlihat klasik dan sangan simple buat para hijaber yang memiliki kepribadian rendah diri dan sederhana.Model depanModel ini kedua ujung pashmina akan ditaruh didepan. Ini kebalikan dari model belakang, namun masih tetap akan terlihat cantik dan menarik. Model ini sangat cocok bagi para hijaber yang memiliki kepribadian unik dan efektif.Nah... model mana yang ingin sista coba? :) Alangkah lebih manisnya jika kita tambahkan bros ataupun asesoris lainnya yang akan menyempurnakan penampilan kita. Buat kamu-kamu yang pakai pashmina sutra, viscose ataupun satin, bros magnet adalah pilihan yang paling pas. Jangan sampai pashmina kesayanganmu jadi rusak dan berlubang ya!

0 Komentar
5 August
2016
Turkish Tea
While both Chinese and Indians claim that they first discovered the use and drink of Tea thousands of years ago, Turks evolved their own way of making and drinking the black tea (Çay in Turkish or Camellia Sinensis in Latin), which became a way of life for our culture. Wherever you go in Turkey, tea or coffee will be offered as a sign of friendship and hospitality, anywhere and any time, before or after any meal. The production of tea in Turkey mainly started in the early years of the Republic along the eastern Black Sea Region. Many of the tea plantations are centered around the town of Rize, and from the Georgian border to Trabzon, Arakli, Rize, Karadere and Fatsa (near Ordu), reaching in some places 30 kilometers inland and reaching the height of around 1000 m. In 1947 the first tea factory was built in Rize and in 1965 the production of dried tea reached to the level of domestic consumption. The tasks of buying, processing and selling tea was conducted by the Tekel (Monopoly of State) General Directorate until then, in 1971 was transferred to the Tea Corporation, and in 1984 the Monopoly on tea was lifted and this facility was also provided to the private sector.Turkish tea is full-flavored and too strong to be served in large cups thus it's always offered in little tulip-shaped glasses which you have to hold by the rim to save your fingertips from burning because it's served boiling hot. You can add sugar in it but no milk, and you can have it either lighter (weaker) or darker (stronger) depending on your taste because Turkish tea is made by pouring some very strong tea into the glass, then cutting it with water to the desired strength. Serious tea-drinker Turks usually go to a coffee & tea house where they serve it with a samovar (Semaver in Turkish) so they can refill their glasses themselves as much as they want.A few years ago apple tea (Elma cayi in Turkish) was introduced to the local market, especially for tourists. Of course this has nothing to do with traditional Turkish Black Tea; it's sweet, caffeine-free, slightly tart, with a mild apple flavor. But interestingly the list of ingredients doesn't mention anything regarding apple; only sugar, citric acid, citrate, food essence and vitamin C.
1 Komentar
11 May
2016
Turkish Bath
Dating back to Roman times, the public bathhouse was a place for socializing, washing and business. Hamams are the Turkish version of the public bath, and no trip to Turkey is complete without a visit to one. Functions of the Hamam The Turkish hamam, called the "steamy sister" of the dry sauna, has long played a role in Middle Eastern and particularly Turkish society. Like so much else in Turkish culture, the hamam dates back to the Ottoman Empire. The steam bath in Ottoman times had three basic functions: a place for social gathering; ritual cleansing connected to the Muslim faith, which required spiritual and physical cleanliness; and an architectural witness to the sultan's greatness, power and wealth. The most impressive examples of hamam architecture are found in Istanbul, capital of the Ottoman Empire and former capital of the Byzantine Empire. The Byzantines considered themselves the direct cultural and political successors to the Roman Empire, where public baths were a staple feature of the community. The Ottomans adopted and continued this practice when they conquered the Byzantines in 1450. No expenses were spared in lavish construction and decoration of the hamams. Valuable materials were used not only in the ruler's private hamam, but also in the public baths. Most of these baths are still functional and in use today. Originally, the use of the hamam was restricted to men, but that has since changed. In Ottoman times, each harem would have its own hamam, for women's use only. In modern times, men and women are now both allowed in the same hamam, although they bathe in separate rooms. Smaller hamams have ladies' days. Particularly during the Ottoman Empire, hamams were a place for socializing. The bath was open from sunrise to sunset and frequented not only for washing but also for use of the barber, exchange of gossip and news, and even business meetings. In the ladies' section, women could investigate the physical and social qualities of prospective daughters-in-law, enjoy music and entertainment, and indulge in sweets. A hamam consists of three separate rooms: the warm room, the hot room and the cooling-off room. Visitors to hamams are received by a bath attendant who gives them a cotton wrap, special wooden clogs, which prevented slipping on the wet floor, and a rough mitt for massaging. Today's practices are much the same as in days of yore.
0 Komentar
11 May
2016
Kopi Turki: Minuman Misterius Yang Menaklukkan Dunia
Secangkir kopi tersirat kenangan hingga empat puluh tahun ...

Kopi telah merasuk ke banyak bagian dari budaya Turki sejak keduanya bertemu di abad ke-16. Mulai dari langkah-langkah pertama menuju pelaminan hingga untuk membaca masa depan seseorang; saat bersantai setelah perjalanan panjang hingga saat-saat bergosip, kopi Turki selalu menjadi teman yang paling setia bagi masyarakat Turki.

Seperti halnya pepatah yang adadi atas, secangkir kopi dapat menjadi awal dari sebuah persahabatan yang panjang. Meskipun konsumsi teh lebih tinggi, namun kopi merupakan minuman untuk acara-acara yang lebih spesial.

Kopi berasal dari Kaffa, sebuah daerah yang ada di bagian barat daya Ethiopia. Dan namanya tidaklah mengejutkan karena sama seperti nama daerah asalnya. Menurut cerita, pada suatu hari ada seorang gembala yang melihat beberapa kambing yang sedang memakan buah dari tanaman tertentu, mereka terlihat lebih energik dari kambing-kambing yang lainnya.Jadi setelah diagagal untuk memakan biji-bijian yang keras tersebut, Dia memutuskan untuk merebus dan menyeduh esensi dari buah ini. Mungkin itulah sebabnya mengapa orang-orang Arab menyebut minuman ini dengan sebutan "Qahwa al-bun" yang berarti "Anggur kacang".

Jadi, minuman ini ditemukan oleh gubernur Turki untuk Yaman (Sebelah barat daya Arab Saudi). Dan Dia membawa minuman energik ini ke Istanbul, diberikan kepada sultan sebagai hadiah. Segera setelahnya, kopi menaklukkan negara melalui dapur aristokrasi Ottoman, hingga kemudian turun kejalan-jalan.Dan dalam waktu singkat, kedai-kedai kopi mulai bermunculan seperti jamur di jalan-jalan Istanbul.



Kopi Turki yang disajikan di dalam cangkir porselen khas.


Dari kedai-kedai kopi hingga gedung anarki, dan menujurumah-rumah baca..
Segera setelah jalan-jalan Istanbul mulai diisi dengan bauh arum dari kopi. Di setiap sudut kota ada Kahvehanesi (kedai kopi), yang diisi dengan orang-orang yang sedang meminum kopi dan merokok nargile mereka (shisha). Setiap grup saudagar memiliki kedai kopi mereka sendiri, seperti klub, seperti Kahvehane Pembuat Sepatu, Kahvehane Porter, Kahvehane Prajurit. Menurut sejarawan Turki di abad ke-16, Evliya Chelebi, terdapat lebihdari 800 kedai kopi yang ada di Istanbul, pada abad ke-16.



Kahvehane juga telah menjadi tempat pertunjukan teater musik dan boneka (lihat juga Novel Orhan Pamuk, My Name is Red). Selain itu, semakin banyak pria terdidik yang juga tertarik dengan kedai-kedai kopi ini. Mereka membawa perdebatan politik di Kahvehane tersebut. Dan tidak perlu waktu lama sebelum sultan melihat hal ini sebagai "ancaman". Ketika upaya-upaya mereka untuk menutup kedai-kedai kopi tersebut gagal, para cendikiawan kemudian memutuskan untuk mengubah topik yang akan mereka bahas di kedai kopi. Karena mayoritas adalah orang-orang terpelajar, Suleiman Agung memutuskan untuk mempublikasi serta mengirim kanteks dan cerita literer ke Kahvehane. Jadi "Kahvehane" (dekai kopi) berubah menjadi "Kıraathane" (Rumah Baca).



Karagoz&Hacivat - Wayang Turki Tradisional

Pada abad ke-17 Sultan Ottoman Murad IV memutuskan untuk menutup semua "rumah baca" guna menghentikan potensi pemberontakan melawannya, hal yang sama juga  terjadi di Inggris, di sekitar tahun yang sama dan juga dengan alasan yang sama.

Dari Tanah Turki Menuju Eropa ... Kopi Turki telah menjadi internasional.
Sebelum semuanya ini terjadi, di tahun-tahun awal keberadaan kopi di Istanbul, para pedagang dari Italia telah melihat jenis minuman baru ini dan untuk pertama kalinya mereka mulai menjual kopi tersebut dari Istanbul ke Italia, hingga kemudian ke seluruh Eropa. Di Istanbul, kabupaten Eminonu menjadi pusat distribusi kopi ke seluruh dunia. Bangunan "Bursa Kopi" masih dapat dilihat di sudut barat laut dari Spice Market.Kembali lagi satu-satunya cara untuk memasak kopi yaitu dengan metode "Kopi Turki". Dimana biji-biji kopi digiling dengan halus lalu dicampur dengan air dan diberi tambahan gula, kemudian dimasak secara perlahan-lahan di atas api arang. Lalu disajikan dengan biji-bijian di dalam cangkir.



Kopi Turki di atas arang

Beberapa orang Italia merasa bahwa minuman ini terlalu keras untuk diminum, kemudian mereka menambahkan sedikit Latte (susu), sementara beberapa yang lainnya, beberapa tahun kemudian, memutuskan untuk menambah cokelat, sebuah rasa baru dari Dunia Baru, dan mereka menamakannya Mocha yang mana merupakan sebuah nama dari pelabuhan yang ada di Ethiopia, tempat biji kopi tersebut dikirim ke Turki.

Pada masa penjajahan, biji kopi diangkut melintasi Atlantik, menuju Brasil dan kemudian secara besar-besaran diproduksi di perkebunan. Menuju zaman modern, ketika Kekaisaran Ottoman mulai kehilangan kendali atas daerah-daerah yang lebih jauh, Turki kehilangan kendali untuk memproduksi dan mengekspor kopi.

Hari ini, sudah tidak ada lagi produksi kopi di Turki.Namun kopi Turki masih memainkan peranan yang penting di dalam kehidupan sosial. Di setiap kota Anda dapat melihat sejumlah kedai-kedai kopi dimana masyarakat Turki berkumpul untuk mengobrol dan membaca keberuntungan mereka dari sisa-sisa butir kopi yang ada di dalam cangkir. Para pengantin masih merusak kopi dari suami masa depan mereka dengan garam sebagai lelu contradisional, selama pertemuan keluarga tentang pernikahan masa depan mereka. Dan style kopi tertua, Kopi Turki, masih akan menyimpan kenangan, air mata, kegembiraan dan rahasia persahabatan seumur hidup selama empat puluh tahun.

Baik kopi maupun kedai kopi akan memberikan tuntutan hati kita; Kopi adalah alasan untuk mengobrol hangat dengan teman-teman ...
0 Komentar
9 May
2016