free shipping
on orders over $249

Kopi Turki: Minuman Misterius Yang Menaklukkan Dunia

Kopi Turki: Minuman Misterius Yang Menaklukkan Dunia
9 May
2016
Secangkir kopi tersirat kenangan hingga empat puluh tahun ...

Kopi telah merasuk ke banyak bagian dari budaya Turki sejak keduanya bertemu di abad ke-16. Mulai dari langkah-langkah pertama menuju pelaminan hingga untuk membaca masa depan seseorang; saat bersantai setelah perjalanan panjang hingga saat-saat bergosip, kopi Turki selalu menjadi teman yang paling setia bagi masyarakat Turki.

Seperti halnya pepatah yang adadi atas, secangkir kopi dapat menjadi awal dari sebuah persahabatan yang panjang. Meskipun konsumsi teh lebih tinggi, namun kopi merupakan minuman untuk acara-acara yang lebih spesial.

Kopi berasal dari Kaffa, sebuah daerah yang ada di bagian barat daya Ethiopia. Dan namanya tidaklah mengejutkan karena sama seperti nama daerah asalnya. Menurut cerita, pada suatu hari ada seorang gembala yang melihat beberapa kambing yang sedang memakan buah dari tanaman tertentu, mereka terlihat lebih energik dari kambing-kambing yang lainnya.Jadi setelah diagagal untuk memakan biji-bijian yang keras tersebut, Dia memutuskan untuk merebus dan menyeduh esensi dari buah ini. Mungkin itulah sebabnya mengapa orang-orang Arab menyebut minuman ini dengan sebutan "Qahwa al-bun" yang berarti "Anggur kacang".

Jadi, minuman ini ditemukan oleh gubernur Turki untuk Yaman (Sebelah barat daya Arab Saudi). Dan Dia membawa minuman energik ini ke Istanbul, diberikan kepada sultan sebagai hadiah. Segera setelahnya, kopi menaklukkan negara melalui dapur aristokrasi Ottoman, hingga kemudian turun kejalan-jalan.Dan dalam waktu singkat, kedai-kedai kopi mulai bermunculan seperti jamur di jalan-jalan Istanbul.



Kopi Turki yang disajikan di dalam cangkir porselen khas.


Dari kedai-kedai kopi hingga gedung anarki, dan menujurumah-rumah baca..
Segera setelah jalan-jalan Istanbul mulai diisi dengan bauh arum dari kopi. Di setiap sudut kota ada Kahvehanesi (kedai kopi), yang diisi dengan orang-orang yang sedang meminum kopi dan merokok nargile mereka (shisha). Setiap grup saudagar memiliki kedai kopi mereka sendiri, seperti klub, seperti Kahvehane Pembuat Sepatu, Kahvehane Porter, Kahvehane Prajurit. Menurut sejarawan Turki di abad ke-16, Evliya Chelebi, terdapat lebihdari 800 kedai kopi yang ada di Istanbul, pada abad ke-16.



Kahvehane juga telah menjadi tempat pertunjukan teater musik dan boneka (lihat juga Novel Orhan Pamuk, My Name is Red). Selain itu, semakin banyak pria terdidik yang juga tertarik dengan kedai-kedai kopi ini. Mereka membawa perdebatan politik di Kahvehane tersebut. Dan tidak perlu waktu lama sebelum sultan melihat hal ini sebagai "ancaman". Ketika upaya-upaya mereka untuk menutup kedai-kedai kopi tersebut gagal, para cendikiawan kemudian memutuskan untuk mengubah topik yang akan mereka bahas di kedai kopi. Karena mayoritas adalah orang-orang terpelajar, Suleiman Agung memutuskan untuk mempublikasi serta mengirim kanteks dan cerita literer ke Kahvehane. Jadi "Kahvehane" (dekai kopi) berubah menjadi "Kıraathane" (Rumah Baca).



Karagoz&Hacivat - Wayang Turki Tradisional

Pada abad ke-17 Sultan Ottoman Murad IV memutuskan untuk menutup semua "rumah baca" guna menghentikan potensi pemberontakan melawannya, hal yang sama juga  terjadi di Inggris, di sekitar tahun yang sama dan juga dengan alasan yang sama.

Dari Tanah Turki Menuju Eropa ... Kopi Turki telah menjadi internasional.
Sebelum semuanya ini terjadi, di tahun-tahun awal keberadaan kopi di Istanbul, para pedagang dari Italia telah melihat jenis minuman baru ini dan untuk pertama kalinya mereka mulai menjual kopi tersebut dari Istanbul ke Italia, hingga kemudian ke seluruh Eropa. Di Istanbul, kabupaten Eminonu menjadi pusat distribusi kopi ke seluruh dunia. Bangunan "Bursa Kopi" masih dapat dilihat di sudut barat laut dari Spice Market.Kembali lagi satu-satunya cara untuk memasak kopi yaitu dengan metode "Kopi Turki". Dimana biji-biji kopi digiling dengan halus lalu dicampur dengan air dan diberi tambahan gula, kemudian dimasak secara perlahan-lahan di atas api arang. Lalu disajikan dengan biji-bijian di dalam cangkir.



Kopi Turki di atas arang

Beberapa orang Italia merasa bahwa minuman ini terlalu keras untuk diminum, kemudian mereka menambahkan sedikit Latte (susu), sementara beberapa yang lainnya, beberapa tahun kemudian, memutuskan untuk menambah cokelat, sebuah rasa baru dari Dunia Baru, dan mereka menamakannya Mocha yang mana merupakan sebuah nama dari pelabuhan yang ada di Ethiopia, tempat biji kopi tersebut dikirim ke Turki.

Pada masa penjajahan, biji kopi diangkut melintasi Atlantik, menuju Brasil dan kemudian secara besar-besaran diproduksi di perkebunan. Menuju zaman modern, ketika Kekaisaran Ottoman mulai kehilangan kendali atas daerah-daerah yang lebih jauh, Turki kehilangan kendali untuk memproduksi dan mengekspor kopi.

Hari ini, sudah tidak ada lagi produksi kopi di Turki.Namun kopi Turki masih memainkan peranan yang penting di dalam kehidupan sosial. Di setiap kota Anda dapat melihat sejumlah kedai-kedai kopi dimana masyarakat Turki berkumpul untuk mengobrol dan membaca keberuntungan mereka dari sisa-sisa butir kopi yang ada di dalam cangkir. Para pengantin masih merusak kopi dari suami masa depan mereka dengan garam sebagai lelu contradisional, selama pertemuan keluarga tentang pernikahan masa depan mereka. Dan style kopi tertua, Kopi Turki, masih akan menyimpan kenangan, air mata, kegembiraan dan rahasia persahabatan seumur hidup selama empat puluh tahun.

Baik kopi maupun kedai kopi akan memberikan tuntutan hati kita; Kopi adalah alasan untuk mengobrol hangat dengan teman-teman ...